Kapan nikah?

Akhirnya kembali kesini setelah sekian lama!

Dan kian terasa asing ya dengan aktivitas menulis ini, hehe.

Akhir-akhir ini, rasanya kian terganggu dengan pertanyaan 'kapan nikah?', yang sering kali berkembang menjadi pertanyaan intimidatif lain yang memojokkan. Dianggap terlalu pilah-pilih, terlalu pasif, mirisnya dianggap terlalu abai dengan 'norma sosial'. Padahal aku tidak melanggar norma sosial dengan aku belum menikah hingga saat ini. 

Tidak jarang pertanyaan-pertanyaan ini justru datang dari orang terdekat, dari keluarga, bahkan dari orang tua. Dianggap egois karena tidak memikirkan orang tua dari ancaman tekanan sosial. Masalahnya, pernikahan kan bukan hal yang sesederhana itu. Menikah adalah keputusan besar yang melibatkan banyak hal, bukan sekedar akad dan selesai. Justru menikah bisa jadi gerbang menuju masalah yang lebih besar jika dilakukan dengan sembrono kan?

Bukannya anti atau menolak untuk menikah, tapi karena memang belum ada orangnya, belum ada momen bertemu dengan orang yang tepat. Apa harus dipaksakan? Apa harus memilih dengan serampangan? Entahlah, tapi bagiku ada prinsip yang harus dijaga, ada batas yang tidak boleh dilanggar. Pernikahan harus tetap sakral, bersama orang yang benar-benar siap dan yakin untuk berada di jalan yang sama.

Justru karena kami sangat menghargai pernikahan itu sendiri, makanya kami ingin menjadikan pernikahan itu bukan sebagai ajang pertunjukan atau pembuktian diri. Melainkan sebagai komitmen bagi diri sendiri di hadapan Tuhan, untuk menempuh perjalanannya sebagai perjalanan ke syurga.

Aku tidak ingin aku terburu-buru dan justru menyesalinya seumur hidupku. Aku ingin bertemu di versi terbaik dari aku dan dia, agar nantinya kami tak saling menyakiti, tapi saling berbagi dan mengisi, menghargai dan saling tuntun dalam langkah-langkah kecil yang pasti. Aku tahu seberapa menderitanya jika harus menikah dengan orang yang salah, yang sakitnya bukan hanya dirasakan sendiri, tapi anak-anak -yang tak pernah bisa memilih lahir dari siapa- juga turut merasakan penderitaannya. 

Akan aku usahakan, anak itu lahir di keluarga yang sehat dan bahagia. Yang orang tuanya penuh cinta kasih serta penuh ilmu dalam membesarkan dan mendidiknya. Anak yang mendapatkan haknya secara penuh sebagai seorang anak. Anak yang tidak perlu menghadapi trauma seumur hidup karena kesalahan orang tuanya.

Atau jika memang aku tidak bisa mewujudkannya, aku lebih suka untuk pergi dari dunia tanpa meninggalkan anak itu menghadapi kerasnya hidup di dunia. Tapi tetap saja, aku ikut kehendak Tuhan yang entah akan membawa nasibku kemana. InsyaaAllah aku sudah ridho pada apapun yang menjadi takdirku.

Komentar

Postingan Populer